selamat datang di Ikhsani Sunshine Blogs "dariku untuk semua"

Minggu, 08 April 2012

dualisme Gizi

 
Indonesia, dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat beraneka ragam, prospektif, dan dapat diandalkan, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, pertambangan, pariwisata, sampai kehutanan. Namun, kesehatan masyarakat kita justru begitu memprihatinkan. Berbagai macam kasus kesehatan bermunculan, baik kasus baru maupun lama, benar-benar mengancam masa depan bangsa. Sebut saja kasus kelaparan yang diderita 13 juta anak (World Food and Program, 2008), diikuti gizi buruk yang menimpa 1,5 juta balita Indonesia dengan 150.000 di antaranya marasmus-kwashiorkor, serta epidemi penyakit lainnya yang lebih banyak menimpa kalangan menengah ke bawah. Maka wajar jika sampai sekarang pun ketahanan bangsa (salah satunya dari sisi kesehatan) masih begitu jauh dari harapan. Dan menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri jika kasus yang berkaitan dengan kesehatan belum terselesaikan. Lampung POST misalnya, terhitung sejak tanggal 2 November hingga 5 November memuat berita tentang masalah gizi buruk yang menimpa generasi muda negeri ini. Mulai dari Dimas (2,5 tahun), Sarmilah (2 bulan) dan Gilang Saputra (8 bulan) serta masih banyak lagi penderita yang belum terblow-up publik.
Akar masalah kesehatan masyarakat
Merupakan fakta yang tidak dapat terbantahkan jika melihat kondisi kesehatan masyarakat membuat kita miris. Begitu banyaknya pemberitaan terkait isu mahalnya biaya kesehatan, semakin tingginya angka penderita HIV-AIDS, wabah penyakit menular, serta permasalahan-permasalahan lain yang menuntut perhatian kita. Begitu kompleksnya permasalahan yang diangkat ini mengharuskan kita untuk memandang secara utuh seluruh permasalahan tersebut, bukan parsial. Tidak hanya sebagai permasalahan klinis semata, namun permasalahan masyarakat secara keseluruhan.
Jika ditelaah kembali, permasalahan kesehatan hanyalah efek kumulatif dari berbagai persoalan kehidupan. Epidemi HIV-AIDS misalnya, tidak lepas dari budaya seks bebas dan ajang penyalahgunaan narkoba yang menjadi penyebab menyebarnya penyakit mematikan saat ini. Krisis ekonomi ikut mempengaruhi kemiskinan negeri ini. Dan akhirnya jutaan orang menderita kurang gizi dan tidak mampu mengakses sanitasi yang baik. Eksploitasi sumber daya alam besar-besaran yang mencabut keseimbangan ekosistem di biosfer bumi ini juga berakibat buruk terhadap kesehatan masyarakat. Di sisi lain, pendidikan yang materialistik mengakibatkan krisis spiritual, emosional, dan berbagai perilaku ikut melemahkan imunitas tubuh. Tata pergaulan yang hedonistic mengakibatkan mewabahnya berbagai penyakit menular seksual, dan pemerintahan yang oportunis mengakibatkan pengaturan kehidupan manusia kosong dari aspek kemanusiaan. Sementara itu, upaya kesehatan yang kapitalistik selain terpolarisasi pada aspek kuratif semata juga hanya dapat dinikmati oleh segelintir masyarakat.
Dan uraian tersebut membuktikan bahwa masalah kesehatan adalah efek kumulatif dari semrawutnya bidang kehidupan lain akibat penerapan tatanan kehidupan sekuler kapitalistik. Dengan kata lain, ruang kehidupan yang disesaki aturan sekuler-lah menjadi penyebabnya. Dan tepat jika banyak pengamat yang mengatakan, inilah peradaban terkejam yang mengatur kehidupan manusia. Dengan dua abad saja dunia diatur tatanan kapitalis-sekuler, penderitaan yang dialami umat manusia sungguh luar biasa, termasuk pesoalan kesehatan.
Mudah dipahami bahwa sistem ekonomi kapitalistik dan kebijakan ekonomi yang didasarkan pada sudut pandang materialistic mengakibatkan puluhan juta orang menderita malnutrisi dan berbagai penyakit yang dipicu oleh menurunnya daya tahan tubuh akibat asupan zat gizi esensial yang tidak memenuhi kecukupannya. TBC dan diare, misalnya, adalah penyakit akibat infeksi  kuman yang serta kaitannya dengan peningkatan kemiskinan dan penurunan kesejahteraan. Dan masih banyak lagi permasalahan lain yang belum disebutkan.
Inilah realitas kesehatan masyarakat, di saat kehidupan kita diatur oleh sistem kehidupan sekuler. Tidak hanya di Indonesia tetapi di seluruh dunia. Roda-roda kehidupan berputar melumatka sistem kekebala tubuh masyarakat. Karenanya, seberapa besar usaha yang dilakukan untuk meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, tidak akan menuntaskan masalah tersebut. Sekedar berusaha menjernihkan air di hilir tanpa membersihkan Lumpur-lumpur di hulu adalah suatu kemustahilan. Maka dari itu, dibutuhkan solusi yang tepat.
Jalan keluar satu-satunya
Adalah suatu goresan terindah sejarah kesehatan masyarakat, saat sistem kehidupan bekerja menumbuhkan dan mengokohkan spiritualitas pada diri setiap anggota masyarakat. Roda perekonomian yang bebas dari riba dan perilaku eksploitatif berputar menyejahterakan setiap orang, menjadikan keseimbangan alam terjaga. Air, tanah, dan udara terpelihara dari berbagai polutan. Makanan  sehat dan halal mudah didapatkan. Masyarakat hanya makan setelah merasa lapar dan berhenti setelah kenyang. Inilah yang diungkapkan Rasulullah SAW saat dokter yang dihadiahkan kepada beliau kebingungan mencari pasien yang akan diobati.
Lebih jauh tentang gambaran indah kesehatan masyarakat saat itu, kebersihan menjadi bagian dari jati dirinya. Penguasa dan umat tak ubahnya bapak bagi anak-anaknya, yang menjamin pemenuhan kebutuhan pokok mereka. Dan semua aspek kehidupan tersebut bersinergi sehingga sistem kekebalan tubuh setiap orang menjadi kuat menaklukkan  berbagai macam penyakit. Dan itu hanya ada di dalam sistem kehidupan Islam. Sistem yang menyehatkan secara utuh semua orang-kaya maupun miskin, muslim maupun non muslim. Itulah sistem kehidupan dari Allah SWT, Al Khaliq yang mnciptakan manusia dan alam semesta, yang berdiri di atas kalimat Laa Ilaha Illallah Muhamadarrasulullah.
Islam sendiri telah mengagas bahwa kesehatan sangat penting bagi kehidupan. Lima belas abad yang lalu jauh sebelum Deklarasi Jenewa ditandatangani, melalui lisannya, Rasulullah SAW telah bersabda,”Siapa saja diantara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya: aman jiwa, jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia telah diberi dunia seisinya”.(HR Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, Ibn Majah dan Tirmidzi).
Islam tidak saja memandang kesehatan sebagai kebutuhan, namun juga menegaskan pentingnya kesehatan dalam upaya manusia manusia melakukan fungsi penghambaan sebagai aktivitas hidupnya yang utama. Implikasinya, status kesehatan masyarakat terkait erat dengan keberadaan Islam dan kehidupan Islam.
Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah itu akan terulang kembali. Tentu saja itu dapat terwujud jika Islam kembali ditegakkan. Penting dicatat bahwa melaksanakan syariat Islam secara kaffah adalah kewajiban, dan dilakukan semata-mata untuk mencapai ridho Allah SWT. Adapun berbagai maslahat, termasuk masyarakat seutuhnya, adalah buah yang pasti bisa dinikmati. Rahmat bagi semesta alam (QS 21:107). Rahmat berarti menyejahterakan, termasuk menyehatkan. Oleh karena itu, sangatlah penting menjadikan Islam sebagai sudut pandang dalam upaya mewujudkan kesehatan seutuhnya, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.[]
Oleh : Erlida Amnie (Koordinator SENADA Daerah Lampung)