Indonesia, dengan segala kekayaan alam yang dimilikinya. Indonesia
memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat beraneka ragam,
prospektif, dan dapat diandalkan, mulai dari pertanian, perkebunan,
perikanan, peternakan, pertambangan, pariwisata, sampai kehutanan.
Namun, kesehatan masyarakat kita justru begitu memprihatinkan. Berbagai
macam kasus kesehatan bermunculan, baik kasus baru maupun lama,
benar-benar mengancam masa depan bangsa. Sebut saja kasus kelaparan yang
diderita 13 juta anak (World Food and Program, 2008), diikuti gizi
buruk yang menimpa 1,5 juta balita Indonesia dengan 150.000 di antaranya
marasmus-kwashiorkor, serta epidemi penyakit lainnya yang lebih banyak
menimpa kalangan menengah ke bawah. Maka wajar jika sampai sekarang pun
ketahanan bangsa (salah satunya dari sisi kesehatan) masih begitu jauh
dari harapan. Dan menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri jika kasus
yang berkaitan dengan kesehatan belum terselesaikan. Lampung POST
misalnya, terhitung sejak tanggal 2 November hingga 5 November memuat
berita tentang masalah gizi buruk yang menimpa generasi muda negeri ini.
Mulai dari Dimas (2,5 tahun), Sarmilah (2 bulan) dan Gilang Saputra (8
bulan) serta masih banyak lagi penderita yang belum terblow-up publik.
Akar masalah kesehatan masyarakat
Merupakan fakta yang tidak dapat terbantahkan jika melihat kondisi
kesehatan masyarakat membuat kita miris. Begitu banyaknya pemberitaan
terkait isu mahalnya biaya kesehatan, semakin tingginya angka penderita
HIV-AIDS, wabah penyakit menular, serta permasalahan-permasalahan lain
yang menuntut perhatian kita. Begitu kompleksnya permasalahan yang
diangkat ini mengharuskan kita untuk memandang secara utuh seluruh
permasalahan tersebut, bukan parsial. Tidak hanya sebagai permasalahan
klinis semata, namun permasalahan masyarakat secara keseluruhan.
Jika ditelaah kembali, permasalahan kesehatan hanyalah efek kumulatif
dari berbagai persoalan kehidupan. Epidemi HIV-AIDS misalnya, tidak
lepas dari budaya seks bebas dan ajang penyalahgunaan narkoba yang
menjadi penyebab menyebarnya penyakit mematikan saat ini. Krisis ekonomi
ikut mempengaruhi kemiskinan negeri ini. Dan akhirnya jutaan orang
menderita kurang gizi dan tidak mampu mengakses sanitasi yang baik.
Eksploitasi sumber daya alam besar-besaran yang mencabut keseimbangan
ekosistem di biosfer bumi ini juga berakibat buruk terhadap kesehatan
masyarakat. Di sisi lain, pendidikan yang materialistik mengakibatkan
krisis spiritual, emosional, dan berbagai perilaku ikut melemahkan
imunitas tubuh. Tata pergaulan yang hedonistic mengakibatkan mewabahnya
berbagai penyakit menular seksual, dan pemerintahan yang oportunis
mengakibatkan pengaturan kehidupan manusia kosong dari aspek
kemanusiaan. Sementara itu, upaya kesehatan yang kapitalistik selain
terpolarisasi pada aspek kuratif semata juga hanya dapat dinikmati oleh
segelintir masyarakat.
Dan uraian tersebut membuktikan bahwa masalah kesehatan adalah efek
kumulatif dari semrawutnya bidang kehidupan lain akibat penerapan
tatanan kehidupan sekuler kapitalistik. Dengan kata lain, ruang
kehidupan yang disesaki aturan sekuler-lah menjadi penyebabnya. Dan
tepat jika banyak pengamat yang mengatakan, inilah peradaban terkejam
yang mengatur kehidupan manusia. Dengan dua abad saja dunia diatur
tatanan kapitalis-sekuler, penderitaan yang dialami umat manusia sungguh
luar biasa, termasuk pesoalan kesehatan.
Mudah dipahami bahwa sistem ekonomi kapitalistik dan kebijakan
ekonomi yang didasarkan pada sudut pandang materialistic mengakibatkan
puluhan juta orang menderita malnutrisi dan berbagai penyakit yang
dipicu oleh menurunnya daya tahan tubuh akibat asupan zat gizi esensial
yang tidak memenuhi kecukupannya. TBC dan diare, misalnya, adalah
penyakit akibat infeksi kuman yang serta kaitannya dengan peningkatan
kemiskinan dan penurunan kesejahteraan. Dan masih banyak lagi
permasalahan lain yang belum disebutkan.
Inilah realitas kesehatan masyarakat, di saat kehidupan kita diatur
oleh sistem kehidupan sekuler. Tidak hanya di Indonesia tetapi di
seluruh dunia. Roda-roda kehidupan berputar melumatka sistem kekebala
tubuh masyarakat. Karenanya, seberapa besar usaha yang dilakukan untuk
meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, tidak akan menuntaskan masalah
tersebut. Sekedar berusaha menjernihkan air di hilir tanpa membersihkan
Lumpur-lumpur di hulu adalah suatu kemustahilan. Maka dari itu,
dibutuhkan solusi yang tepat.
Jalan keluar satu-satunya
Adalah suatu goresan terindah sejarah kesehatan masyarakat, saat
sistem kehidupan bekerja menumbuhkan dan mengokohkan spiritualitas pada
diri setiap anggota masyarakat. Roda perekonomian yang bebas dari riba
dan perilaku eksploitatif berputar menyejahterakan setiap orang,
menjadikan keseimbangan alam terjaga. Air, tanah, dan udara terpelihara
dari berbagai polutan. Makanan sehat dan halal mudah didapatkan.
Masyarakat hanya makan setelah merasa lapar dan berhenti setelah
kenyang. Inilah yang diungkapkan Rasulullah SAW saat dokter yang
dihadiahkan kepada beliau kebingungan mencari pasien yang akan diobati.
Lebih jauh tentang gambaran indah kesehatan masyarakat saat itu,
kebersihan menjadi bagian dari jati dirinya. Penguasa dan umat tak
ubahnya bapak bagi anak-anaknya, yang menjamin pemenuhan kebutuhan pokok
mereka. Dan semua aspek kehidupan tersebut bersinergi sehingga sistem
kekebalan tubuh setiap orang menjadi kuat menaklukkan berbagai macam
penyakit. Dan itu hanya ada di dalam sistem kehidupan Islam. Sistem yang
menyehatkan secara utuh semua orang-kaya maupun miskin, muslim maupun
non muslim. Itulah sistem kehidupan dari Allah SWT, Al Khaliq yang
mnciptakan manusia dan alam semesta, yang berdiri di atas kalimat Laa
Ilaha Illallah Muhamadarrasulullah.
Islam sendiri telah mengagas bahwa kesehatan sangat penting bagi
kehidupan. Lima belas abad yang lalu jauh sebelum Deklarasi Jenewa
ditandatangani, melalui lisannya, Rasulullah SAW telah bersabda,”Siapa
saja diantara kalian yang berada di pagi hari sehat badannya: aman jiwa,
jalan dan rumahnya; dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan ia
telah diberi dunia seisinya”.(HR Al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad, Ibn
Majah dan Tirmidzi).
Islam tidak saja memandang kesehatan sebagai kebutuhan, namun juga
menegaskan pentingnya kesehatan dalam upaya manusia manusia melakukan
fungsi penghambaan sebagai aktivitas hidupnya yang utama. Implikasinya,
status kesehatan masyarakat terkait erat dengan keberadaan Islam dan
kehidupan Islam.
Yang menjadi pertanyaan, mungkinkah itu akan terulang kembali. Tentu
saja itu dapat terwujud jika Islam kembali ditegakkan. Penting dicatat
bahwa melaksanakan syariat Islam secara kaffah adalah kewajiban, dan
dilakukan semata-mata untuk mencapai ridho Allah SWT. Adapun berbagai
maslahat, termasuk masyarakat seutuhnya, adalah buah yang pasti bisa
dinikmati. Rahmat bagi semesta alam (QS 21:107). Rahmat berarti
menyejahterakan, termasuk menyehatkan. Oleh karena itu, sangatlah
penting menjadikan Islam sebagai sudut pandang dalam upaya mewujudkan
kesehatan seutuhnya, baik untuk diri sendiri, keluarga dan masyarakat.[]
Oleh : Erlida Amnie (Koordinator SENADA Daerah Lampung)
Oleh : Erlida Amnie (Koordinator SENADA Daerah Lampung)